Minggu, 18 November 2018

Cerita Pendek : Pria Yang Terbang


     Ilustrasi foto diambil dari Deviantart

“Dusss….Brakk..” 

“Ambil bolanya, kamu yang tadi tendang terlalu jauh!”, ucap salah seorang anak dengan sedikit berteriak.

11 November 2010, Gudang begitulah orang-orang memanggil desa ini. Jangan tanya mengapa dinamakan begitu kepadaku, karna aku sendiripun tidak tahu mengapa bisa dinamakan demikian. Desa ini terletak di Jawa Tengah jadi bisa dibayangkan suasan desa umumnya di wilayah Jawa. Tak terlalu banyak orang-orang yang tinggal disini karena mayoritas orang-orang dewasanya kebanyakan pergi ke kota-kota besar untuk melakukan pekerjaannya yaitu mencari uang.

Tidak banyak lapangan kerja disini, jika kau tinggal disini dan memaksa untuk menjalani hidupmu sebagai orang dewasa maka yang harus kau lakukan adalah menjadi seorang petani pada umumnya. Tidak ada pabrik, atau perkantoran disekitar sini, baik di tingkat kecamatan. Mungkin jika aku sudah dewasa kelak aku akan mengikuti jejak orang-orang dewasa disini.

Ada sebuah pekarangan kosong didesaku, biasanya aku dan teman-temanku menggunakannya sebagai tempat bermain. Namun ada yang tidak aku suka dari tempat tersebut, desaku adalah desa paling akhir dikecamatan ini dan berbatasan langsung dengan hutan beberapa puluh meter, jadi ketika aku sedang berdiri aku bisa melihat rimbunnya pepohonan dari balik hutan dengan jelas. Entahlah bagaimana aku harus menyebutnya, indah ataukan menyeramkan.

“Oper!”, Teriak Doni.

Aku dan 4 orang temanku. Doni, Tomi, Fandi, & Rian sedang bermain bola disebuah pekarangan kosong di desa kami.

“dusss”, terdengar suara bola.

“yah…kamu tendangnya terlalu jauh, jadi bolanya keluar. Kamu ambil sana bolanya”. Sahut Tomi.

“iya aku ambil”,Doni bergegas mengambil bola yang ia tendang.

Bola yang dia tendang jatuh di pinggir pekarangan, dia mulai berlari menuju kemana bola itu jatuh. Kami bisa melihat dia dari sini, dan bisa mendengar suaranya. Namun tiba-tiba 
ada seorang pria berjalan dari sisi pekarang berjalan perlahan dan mencoba memberikan bola dia tendang.

“Kamu siapa ?”,tanya Doni.

“Namaku Hendri, ini ambil bolanya”, pria tersebut mencoba mengadakan tangannya agar Doni bisa mengambil bolanya.

“Siapa dia”, kami ber-4 bergumam.

Pakaiannya cukup aneh, agak sedikit compang-camping, dan tanpa alaskaki. Padahal dipekarangan ini banyak tanaman berduri. Tiba-tiba ketika Doni tinggal 1 langkah untuk mengambil bolanya, pria itu mengeluarkan sikap aneh. Kami melihat eksperesinya seperti orang yang sedang mengigil, mulutnya tiba-tiba tersenyum dengan lebar.
Ada sebuah sayap muncul dari balik bahunya, berwarna hitam dan wajahnya berubah menjadi begitu seram, ada sebuah taring muncul dari balik senyumnya. Dan kuku-kuku dari tangan dan kakinya tiba tiba berubah menjadi begitu panjang dan kulitnya berubah menjadi keriput seperti kulit seorang kakek-kakek.

“Ini nak, ambilah bolamu”, Pria tersebut menatapnya sambil tersenyum lebar.

“aaaa….aku tidak mau”, balas Doni.

“Bagaimana jika kau ikut denganku? Aku punya tempat yang indah dibalik hutan sana, aku yakin kau pasti suka”, pria itu terus menatap Doni dengan serius.
Kami hanya bisa terdiam dan melihat ini semua dari belakang Doni, kaget bercamput dengan takut.

“Doni, ayo cepat kesini kita harus pulang”, Tomi mencoba mengajaknya untuk segera mundur dan cepat pulang. Ketika kaki kecil Doni mencoba mundur perlahan, pria itu mengeluarkan suara yang nyaring sangat kencang.  

Lalu…

Dia  menatap kami, dalam diam bagaikan es dia mengambil Doni, dia pergi terbang membawa Doni kebalik hutan. Kami semua tidak percaya dengan apa yang kami alami, kami semua terdiam sampai begitu lama hingga salah satu diantara kami lari dan kami semua langsung lari mencari orang dewasa dan mencoba memberitahukan apa yang barusan kami alami.

Sudah 5 tahun berlalu sejak kejadian itu dan Doni sampai hari ini tidak pernah ditemukan. Tak pernah kembali, semua anak yang menyaksikan langsung di pekarangan tersebut merasa bersalah karna semuanya terdiam ketika Doni dibawa oleh Pria seram tersebut. Kami semuanya berjanji, ketika kami sudah dewasa kami tidak akan membiarkan kejadian tersebut menimpa anak lain lagi dan entah bagaimana caranya kami akan membawa Doni kembali dan membuatnya dapat berkumpul kembali dengan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar