Minggu, 28 Oktober 2018

Cerita Pendek : Cinderella Man, Part 1




“Tring..Tring”, suara notifikasi whatsapp dari ponselku berbunyi. ku tengok ternyata terdapat sebuah pesan yang berbunyi,
 “Pagi, maaf ya baru bales tadi malem aku ketiduran”. 

Sabtu 13 Oktober 2010, hari ini cuaca di kota Jakarta sangat begitu terik seperti biasanya. Namun yang membuatku bingung mengapa bulan ini masih begitu panas, harusnya sudah masuk musim penghujan. Aku jadi ingat pada beberapa tahun lalu ketika periode hujan berjalan dengan semestinya. Saat itu hujan deras, jalan jalan tergenang oleh air. Banyak sekali kendaraan yang tergenang air, mulai dari beroda 4 sampai beroda 2 dan aku ada salah satunya disana. Dengan sedikit kelimpungan aku mencari bengkel dengan kondisi jalan tergenang air. Dan pada akhirnya aku membuat pilihan yang krusial dengan meminggirkan motor dan menyetandarkannya absen 1 hari untuk bekerja. Konyol memang….

Kalian tahu tentang kisah cinderella ? kisah yang menceritakan seorang perempuan miskin yang bertemu dengan jodohnya dan yang ternyata adalah orang yang paling kaya raya dikotanya, dia adalah seorang pangeran. Kisah itu terdengar seperti dongeng disiang hari, bagaimana tidak ? dalam realita sosial sebenarnya. Jika benar orang yang sangat kaya raya dikotamu ternyata adalah jodohmu sendiri dan kau ternyata berstatus sebagai orang yang terlahir dari keluarga miskin. Kisah cinta seperti itu sangat tidak mungkin dapat terwujudkan dalam dunia yang sebenarnya. Memang terdengar sedikit pesimis tapi begitulah realitanya.

Orang kaya raya dan kau sendiri yang berasal dari keluarga tidak mampu mungkin bisa menjadi sebuah realita, tapi  “jodoh” mungkin hanya akan jadi gurauan semata dalam realita kehidupanmu. Cindy, begitulah orang orang memanggilnya. Dengan gambaran wajah yang begitu ramah nan murah senyum, kulit khas mencirikan orang Indonesia dan dengan tinggi 165 cm. Mungkin bisa lebih tinggi, tapi itu tidak  penting. Yang sangat menggangguku adalah fakta bahwa dia lebih kaya dan lebih berpendidikan dariku. Saat aku menggunakan sebuah kipas angin yang kubeli seharga Rp 150 sebagai pendingin ruangan, mungkin saat ini dia sedang menggunakan AC dengan harga yang mahal untuk pendingin didalam ruangannya.

“Pagi, maaf ya baru bales tadi malem aku ketiduran”, ucap Cindy dalam pesan WA.
“Pagi, tidak apa-apa ko, memang gak baik juga kalau perempuan tidur malam”, balasku
 “oh, kamu gak marah ? kamu udah sarapan ?”, tanya Cindy kembali.
“gak marah ko, cuma dendam aja hehe (dengan sedikit bercanda). Udah, kamu udah sarapan ?”, Aku kembali membalas.

Setelah itu percakapan tiba-tiba terhenti sampai kira-kiraa lebih dari 1 jam sampai berlanjut kembali dan Cindy mulai sedikit lama dalam membalas pesan. Apa yang terjadi ? entahlah mungkin Cindy sedang sibuk. Sedang mengerjakan pekerjaan yang penting mungkin.

Kutarik gas motor dengan hati-hati sambil perlahan menghindari kerumunan kepadatan kendaraan dijalan. Pada saat ini aku sedang dalam menjalankan tugas perusahaan, yang mana saat ini aku sedang mengantar dokumen untuk kelengkapan urusan administrasi. Kalian jangan mengangap bahwa sosokku disini begitu special. Dalam urusan karir aku seperti kurcaci, begitu kecil karna realitanya aku adalah seorang kurir perusahaan. Kurir perusahaan ? terdengar seperti tidak memiliki masa depan yang jelas, apa yang bisa di harapkan dari pria yang berprofesi sebagai kurir ?.. tapi begitulah realitanya.
Eloknya kota Jakarta begitu terlihat dari balik kepadatan keramaian kendaraan. jalan dijakarta begitu padat tidak seperti di kota lain, sampai untuk menempuh jarak yang tidak sampai 10 km bisa memakan waktu sampai 1 jam dengan motor. Hingar bingar khas kota metropolitan..Mobil berseliweran, banyak perempuan cantik dengan dandanan anggun berjalan kesana kemari menjadi sebuah pemandangan yang menyejukan mata.

Salah satu alasan mengapa aku mau bersusah payah melakukan ini semua karena aku punya sebuah tujuan, yang akan membuatku kelak bisa tersenyum dan duduk di sofa sembari menceritakan kisah ini kelak kepada anak-anakku sebagai cerita inspiratif. Kalian pikir apa ? menjadi sukses dan kaya ? tentu saja itu dia tujuannya. Aku memang tidak punya tanah yang diwariskan berhektar-hektar, terlahir sebagai keluarga pengusaha, secara tiba-tiba mendapatkan undian ratusan juta dalam semalam, atau mendapat uang kaget ratusan juta dalam sehari. Aku yakin apa yang aku yakini dapat kuraih walaupun orang-orang disekitarku melarangnya.

Bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar